Jalan-jalan Ke Negara Dua Benua ( 3 Bulan )

Sungguh perjalanan yang mengasyikkan ketika kami dapat kesempatan untuk mengetahui negara Turki secara langsung

SBBS Gelar Deklarasi Anti Mencontek

Demak-Halo Sobat gua mau ngeshare video Deklarasi Anti Mencontek di SBBS yang tercinta silahkan dilihat video semoga bisa menjadi acuan untuk kejujuran masa depan Bro!!!! Sukses Ya Teman-Teman!!! Tetap Semangat Bro!!! Dah gak sabar lihat videonya kan Lets Watch and Proud Your Self!!!!

Cara Mendapatkan Uang Lewat Android Gratis-WHAFF

Demak-Assalamualaikum Wr Wb sahabat blogger bagaimana kabarnya? Semoga Baik ya. Kali ini saya akan share bagaimana cara menghasilkan uang lewat android melalui aplikasi android yaitu WHAFF. Hal ini sangat megejutkan saya di awal memakai Whaff dibandingkan memakai PTC(Paid To Click) maupun PPC(Pay Per Click).

Generasi Muda Sosok Pemimpin Masa Depan

Pemuda sejak dahulu telah diramalkan menjadi penerus bangsa-bangsa di dunia dan akan menjadi sosok yang hebat maupun lemah di mata dunia. Pemuda ibarat raksasa yang akan mencengkram dunia dan menentukan nasib dunia hancur atau bertambah megah seperti Istana Zeus tempat tinggal para Dewa Yunani.

Safira Collection

Griya Busana dan Perlengkapan Muslim Jl. Nurcahya No. 6 Demak Telp. (0291)681018/ 081390734090 Hj. Aida Nursanti W.K., SE

Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Saturday, 16 November 2013

Abu Nawas, Penyair Jenaka ini Bukan Cuma Dongeng

Cerita 1001 malam sangat melegenda seantero dunia. Salah satu tokohnya yang terkenal, Abu Nawas disebut-sebut sebagai orang yang sangat pintar dan penuh akal. Kisahnya yang terkadang aneh menimbulkan pertanyaan, apakah Abu Nawas hanya rekaan dongeng semata?

Abu Nawas benar-benar tokoh yang pernah hidup di bawah pemerintahan khalifah Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah). Nama aslinya Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 Hijriah [756 M dan meninggal 814 M] di Kota Ahvaz di negeri Persia (Iran).


Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sayang, ayahnya cepat berpulang sehingga Abu Nawas menjadi yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya'qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa'ad as-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.


Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Penyair khamar. Begitu Abu Nuwas dijuluki sebagian orang, karena dia mengangkat minuman haram sebagai tema puisinya. Dalam puisi khumrayat, ia menggambarkan kelezatan dan keburukannya, pemerasan, pengolahan, rasa, warna, dan baunya hingga para peminumnya. Menurutnya, khamar dapat menenangkan hatinya yang gundah.

Abu Nuwas juga sempat dituding sebagai penyair zindik atau pendosa besar gara-gara puisinya yang  sering dianggap melampaui batas kesopanan dan merendahkan ajaran agama.

Walau demikian, Abu Nawas dikenal sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana,shaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.



Masuk penjara
Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.

Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Sumber:
orbitdigital

Tuesday, 13 August 2013

Ben Youcef Mengumandangkan Azan di Gereja Los Angeles




Banyak umat Islam di kawasan Los Angeles datang ke masjid untuk mendengarkan suara merdu Abdul Wahab bin Youcef. Bin Youcef, yang dikenal dengan nama Ben Youcef, berharap untuk menjadi salah satu dari segelintir aktor berkebangsaan Arab di Hollywood.
Beberapa kalangan menggambarkan Abdul Wahab bin Youcef sebagai simbol toleransi beragama di Amerika, terutama dengan aktivitasnya dalam berbagai kegiatan lintas agama. Kegiatan lintas agama, menurut Bin Youcef berpengaruh kepada orang-orang di AS "terlepas dari apakah seseorang adalah Muslim, Kristen, Yahudi, Budha atau tanpa agama."
Bin Youcef memulai karir aktingnya setelah serangan 11 September. Ia berpartisipasi dalam sejumlah iklan sebelum bergabung dengan sebuah agensi di Amerika.
Pada saat itu, penampilan bin Youcef menarik sejumlah sutradara di Amerika, terutama untuk peran yang berkaitan dengan Islam, ekstremisme agama dan topik lain yang berkaitan dengan serangan 11 September.
Direktur Artists Group, Robert Malcolm adalah orang pertama untuk menangkap karakteristik unik bin Youcef. Saat itu, aktor berwajah etnis Arab memang tiba-tiba banyak dicari.
Bin Youcef menerima panggilan untuk audisi dengan sebuah rumah produksi di Los Angeles. Ia memerankan lima menit adegan dari drama'' A Hatfull of Rain" dalam audisi tersebut. Kesuksesannya dalam audisi ini menjadi awal karir bin Youcef.
Mengenai peristiwa 11 September, bin Youcef berkomentar, "Saya bertanya-tanya mengapa orang berpikir buruk tentang agama saya. Saya bingung dengan apa yang terjadi di dunia ini. Mereka menyerang keyakinan saya dan agama saya."
Ia menambahkan bahwa berbagai pertanyaan yang ia dapat mengenai Islam mendorongnya untuk "melakukan penelitian secara mendalam mengenai banyak isu yang berkaitan dengan Islam. Saya berhenti sholat, hingga saya berumur 20 tahun dan mulai sholat lagi. Sejak itu, saya mulai mengumandangkan azan dan saya merasa saya telah menemukan keyakinan saya."


Azan di Gereja
Bin Youcef tidak hanya dikenal karena akting, ia juga terkenal di komunitas Muslim Los Angeles sebagai muazin dengan suara yang berkesan bagi banyak orang. Dari situlah, berbagai lembaga keagamaan non-muslim mengundangnya untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan lintas agama.
Salah satu undangan menampilkan bin Youcef di sebuah gereja di Los Angeles, di mana ia mengumandangkan azan di hadapan pemuka berbagai agama. 
"Saya ingin menunjukkan kepada dunia agama saya," kata bin Youcef. "Bahwa Islam adalah agama yang indah, tetapi beberapa orang telah salah paham dan menyalahgunakannya."
Mengenai berbagai laporan media yang menyanjung suara azannya. "Saya menganggap itu sebagai ibadah kepada Allah," kata bin Youcef. "Saya hanya beruntung karena saya dapat melakukannya, tapi saya tidak istimewa. Saya menganggap itu hadiah dari Allah."
"Tujuan saya bukan untuk menjadi pemimpin agama, saya hanya ingin melakukan kewajiban agama saya seperti orang biasa, dan saya tidak mencari lebih dari itu. "
Dalam sebuah episode serial televisi "Law and Order," bin Youcef memerankan seorang tersangka di pengadilan yang berusaha membebaskan dirinya dari tuduhan konspirasi terorisme. Ia juga tampil dalam sebuah film layar lebar yang cukup sukses di tahun 2005, "Munich."
Meskipun menjadi aktor Muslim di Hollywood merupakan sesuatu yang menantang, bin Youcef selalu mengingat nasihat ayahnya untuk selalu bangga akan asal-usulnya dari Aljazair.
"Sejak saya masih muda, ayah saya mengatakan kepada saya, selama saya selalu ingat siapa saya dan dari mana saya berasal, saya akan baik-baik saja," kata bin Youcef. "Saya menganggap itu sebagai pegangan dalam hidup saya." (voa)

Saturday, 3 August 2013

Kemuliaan Moral Menuntun Gelandang Real Madrid Menjadi Mualaf

Pemain Sepakbola asal Prancis, Julien Faubert, yang juga merupakan gelandang Real Madrid sebelumya, mengungkapkan alasan di balik keputusannya memeluk Islam.

Ia mengatakan bahwa hubungannya dengan teman-temannya yang muslim semasa remaja telah menuntunnya untuk mendalami dan mencari tahu tentang agama ini, dan akhirnya ia memutuskan untuk masuk Islam setelah ia menganggap dirinya nyaman dengan Islam.
 
Ia mengungkapkan bahwa pada awalnya ia kagum terhadap kepribadian dan moral sebagian besar teman-tamannya yang muslim selama tinggal di kota Le Havre.

Ia menegaskan bahwa kemuliaan moral itu membuatnya ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan pribadi mereka.
 
Pemain yang menikah dengan seorang muslimah Aljazair itu mengatakan dalam wawancara dengan surat kabar Pernacis “L’Equipe”, “saya akhirnya menemukan bahwa sumber kepribadian dan moral teman-teman saya itu adalah kembali pada keinginan mereka untuk menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan, dan inilah yang mendorong saya untuk mendalami agama ini dan menemukan nilai-nilai etika yang sangat tinggi dan juga nilai-nilai toleransi.”
 
Faubert menekankan bahwa keragaman budaya telah memberikan kontribusi yang sangat penting dalam pemahaman agamanya, termasuk istrinya yang berkebangsaan Aljazair telah memberikan kontribusi yang penting terhadap pengayaan informasi mengenai agama Islam. (eramuslim)

Islam Membuatku Merasa Berbeda, Benar-benar Damai



Aku Jamie dan aku baru saja memeluk Islam. Sebelum aku memeluk Islam, aku bukanlah orang yang konservatif dan bukan orang yang baik.
 
Sebelumnya aku pernah menjadi model selama lima tahun, dan selama itu pula aku mengonsumsi obat-obatan. Saat itu aku pikir aku dapat berhitung dan aku tidak akan ketagihan karena aku hanya menggunakannya untuk membantu menurunkan berat badan. Aku hanya menggunakannya sesekali untuk menjaga agar aku tak makan terlalu banyak.
 
Ah Ya! Aku pikir aku cukup kuat untuk tidak kecanduan terhadap obat yang pada dasarnya membuat setiap orang yang memakainya menjadi kecanduan.
 
Kemudian aku mulai berhitung, dan hanya menggunakannnya dua minggu sekali hingga akhirnya aku benar-benar kecanduan, dan aku meminumnya siang dan malam selama lima tahun. Dan hal itu telah membawaku benar-benar berada di tempat yang paling terendah. Suamiku saat itu juga melakukan hal yang sama bersamaku, dan ia mulai melakukan kekerasan terhadapku dan aku mulai merasa takut akan hidupku.
 
Aku memutuskan untuk berhenti. Aku putuskan ini bukanlah hal yang kuinginkan untuk hidupku dan aku berkata pada suamiku “Aku akan berhenti.” Ia menertawakanku sambil berkata “Yah, benar. Kamu tak akan berhenti!” dan aku menanggapi “Kamu tahu, aku akan berhenti.” 
 
Pada hari itu aku benar-benar berhenti sepenuhnya. Aku tak punya waktu untuk melakukan rehabilitas, tidak ada pihak luar yang menolong ataupun suasana yang membantu. Suamiku menertawakanku dan selalu berusaha untuk membuatku mengkonsumsi obat-obatan lagi.
 
Setelah itu kemudian aku melahirkan anak lelaki. Seluruh fokus dalam hidup sepertinya berubah. Aku memiliki anak lelaki tampan yang membutuhkan seorang ibu yang baik dan sangat mencintainya. Aku ingin mengubah semuanya dan fokus pada anakku.
 
Kembali ke masa lalu, aku dapat melakukan apapun yang aku inginkan. Aku terlibat di industri perfilman Hollywood yang diimpikan banyak orang. Banyak orang yang terkejut, ketika aku melepaskan semuanya hanya untuk menjadi seorang muslim. Lucunya ketika aku mengucapkan syahadat, keinginan untuk melakukan semua hal yang sebelumnya biasa kulakukan sepertinya diambil seluruhnya dariku. Aku tak ingin melakukannya lagi. Hal ini sangat menakjubkan, aku benar-benar merasa nyaman dan damai di dalam hati ketika menjadi muslim.
 
Aku dilahirkan dan dibesarkan sebagai seorang kristen, namun aku tak pernah menemukan jawaban dari apa yang aku cari selama 31 tahun. Aku tak pernah benar-benar merasakan kehadiran Tuhan. Aku coba sekeras mungkin semampuku. 
 
Aku benar-benar melakukannya dan aku tak pernah merasakan kehadiran-Nya. Hal yang mulai mengarahkanku pada Islam adalah aku menikahi seorang lelaki Iran yang terlahir sebagai  kristen yang taat, dan ia secara mental dan emosional telah menganiayaku. 
 
Belum termasuk fakta bahwa ia meracuniku agar ia dapat mengawasiku, untuk membuatku terus berada di rumah dan tidak dapat keluar dan mengetahui keberadaanku setiap saat. Jadi ku tinggalkan dia, dan hal tersebut telah membuatku untuk memulai perjalanan dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini.

Mencari Islam dan Menemukan Kedamaian
Aku meneliti Islam untuk beberapa waktu sebelum memilih untuk pindah agama. Pada dasarnya, aku ingin mengetahui mengapa orang begitu membenci muslim karena ku melihat apa yang kulihat di berita. Aku melihat pemberontakan dan kekerasan dan aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan apakah seperti itu Islam sebenarnya.
 
Jadi ku mulai meneliti Islam, dan semakin aku mencari dan meneliti, semakin dalam aku masuk kedalamnya, aku melihat kebenaran pada Islam. Aku rasa yang paling kusuka dari Islam adalah penghargaannya pada wanita. Sejumlah besar rasa hormat dan penghargaan dalam Islam diberikan kepada wanita dan hal-hal yang dilakukannya sebagai wanita. 
 
Kehidupan kita tidaklah mudah. Ada banyak hal yang harus dipikirkan dan dikhawatirkan; keluarga kita, suami kita, anak-anak dan kita harus melindungi anak-anak. Hal itu adalah hal yang tidak mudah untuk dijalani.
 
Kalian tahu, banyak diantara kita harus memasak, membersihkan rumah dan mencuci pakaian, membesarkan anak-anak dan menjaga rumah dan suami. Itu adalah pekerjaan yang sulit. 
 
Dan faktanya bahwa Islam menghargai wanita untuk hal-hal tersebut, dan ada hijab khusus di mesjid untuk kita agar para leleki tidak terganggu oleh kita, karena Islam memahami kekuatan yang kita miliki, menurutku kita dapat menyebutnya, seksualitas kita. 
 
Bagaimana penampilan kita sangat mempengaruhi kaum pria. Islam menghargai hal itu. Setelah aku menyadari hal tersebut, langsung mengingatku dan itulah ketika aku tahu bahwa aku ingin menjadi muslim.
 
Berpindah agama ke Islam membuatku merasa berbeda. Membuatku merasa benar-benar damai. Aku merasa tidak stabil sebelumnya. Banyak hal dalam hidupku turun naik karena belum dapat diputuskan. Tidak ada tujuan dalam hidupku. Tidak ada alasan untukku berada di dunia ini. 
 
Aku tak tahu mengapa aku berada di dunia, dan memeluk Islam membuatku merasakan kedamaian dan keamanan dan keseimbangan yang kuperlukan dalam hidup yang membuat semuanya menjadi masuk akal bagiku; semuanya tampak nyata. Dan membuat semuanya berharga, karena akhirnya aku memiliki tujuan dan aku mengerti apa itu.
 
Kita tidak selalu memiliki kesempatan untuk dapat bertemu dengan orang-orang yang benar-benar kita butuhkan untuk tujuan mempelajari Islam. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke mesjid agar dapat lebih dekat dengan sesama muslim dan memahami mereka. Dan semakin aku dekat dengan mesjid, semakin banyak wanita disekelilingku dan mengajakku, dan mereka benar-benar memperlihatkan kebaikan Islam sesungguhnya.
 
Aku tak pernah berpikir sebelumnya bahwa aku akan menjadi seorang muslim. Tidak pernah sama sekali! Persepsiku terhadap muslim sangat salah bahwa aku tidak pernah menyukai mereka karena aku mempercayai media dan berpikir bahwa mereka jahat dan tak pernah sekalipun dalam hidupku ku berpikir bahwa suatu hari aku akan menjadi salah satu dari mereka. 
 
Tetapi, sekarang setelah ku menjadi bagian dari muslim, aku sangat senang dan bangga. Aku ingin mengenakan hijab karena aku ingin orang-orang tahu bahwa aku seorang muslim, meski mereka membenciku, aku tak peduli. Aku ingin menunjukkan kepada mereka bahwa Allah berada dihati setiap orang, bukan hanya orang-orang Timur Tengah.
 
Aku bermain drum sebelum menjadi muslim dan karena aku menjadi menjadi muslim bukan berarti aku harus berhenti melakukan apa yang kusenangi. Aku biasa melakukan banyak aktivitas olah raga seperti; snowboarding, ski air dan ku masih bisa menjadi muslim yang baik dan mengenakan hijab.(esqiel/islampos/muslimahzone.com)

Tuesday, 30 July 2013

Cara Dakwah Damai Sunan Kudus

Ja'far Shodiq, adalah seorang ulama yang kemudian lebih akrab dikenal sebagai Sunan Kudus. Dia berdakwah kepada masyarakat Kudus yang kala itu beragama Hindu.

Tantangan Sunan Kudus begitu berat dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Salah satunya adalah bagaimana cara agar masyarakat tidak marah jika dia dan pengikutnya makan daging sapi. Hal ini karena sapi merupakan hewan yang dianggap suci oleh masyarakat Hindu.
Masjid Kudus / visitcentraljava.com
Sunan Kudus tahu benar bagaimana masyarakat akan bereaksi jika melihat hewan sesembahannya sampai dilukai. Menyadari hal itu, Sunan Kudus kemudian membuat pengumuman bahwa dia akan menghias sapi, sebagai siasat agar masyarakat mau mendengar ceramahnya di Masjid Kudus.

Mengetahui pengumuman itu, masyarakat berbondong-bondong mendatangi Masjid Kudus karena penasaran dengan rencana Sunan Kudus yang akan menghias sapi. Mereka kemudian melihat sapi milik Sunan Kudus yang diberi nama Kebo Gumarang itu di halaman masjid.

Sunan Kudus pun kemudian mengajak masyarakat untuk mendengarkan kisah yang dia ambil dari salah satu surat di dalam Alquran, Al Baqarah, yang berarti Sapi Betina. Masyarakat terkesima mendengarkan kisah yang diceritakan Sunan Kudus.
Sunan Kudus
Selesai mendengarkan cerita itu, ternyata masyarakat masih kurang puas dan ingin mendengar cerita-cerita lain. Akhirnya, Sunan Kudus menyusun banyak kisah dan disampaikan secara teratur dalam setiap pertemuan di Masjid Kudus.

Semakin lama, orang banyak yang tertarik dengan Islam. Hal itu membuat sebagian besar masyarakat Hindu di Kudus memilih berpindah agama dan memeluk Islam.

Namun demikian, dakwah Sunan Kudus sama sekali tidak menghilangkan simbol-simbol masyarakat Hindu.

Sunan Kudus bahkan menghimbau umat Islam untuk tidak memakan daging sapi meskipun halal dan menggantinya dengan daging kerbau.

Himbauan ini dimaksudkan untuk menghormati keyakinan masyarakat.

Lihatlah bagaimana asimilasi terjadi antara Islam dan tradisi sebelumnya. Memang dibutuhkan pemahaman yang arif dalam menyikapi sesuatu, sehingga tetap ada penyebaran dakwah tanpa perlu meninggalkan perdamaian.














 
Sumber:

Thursday, 11 July 2013

Mengapa Di Indonesia Ada Gelar Haji?

Gelar haji Konon hanya dipakai oleh bangsa melayu. Tidak ada dalil yang mengharuskan jika setelah menunaikan ibadah haji harus diberi gelar haji/hajjah. Bahkan sahabat Rasulullah pun tidak ada yang dipanggil haji.
 
Sejarah pemberian gelar haji dimulai pada tahun 654H, pada saat kalangan tertentu di kota Makkah bertikai dan pertikaian ini menimbulkan kekacauan dan fitnah yang mengganggu keamanan kota Makkah.



Karena kondisi yang tidak kondusif tersebut, hubungan kota Makkah dengan dunia luar terputus, ditambah kekacauan yang terjadi, maka pada tahun itu ibadah haji tidak bisa dilaksanakan sama sekalai, bahkan oleh penduduk setempat juga tidak. 

Setahun kemudian setelah keadaan mulai membaik, ibadah haji dapat dilaksanakan. Tapi bagi mereka yang berasal dari luar kota Makkah selain mempersiapkan mental, mereka juga membawa senjata lengkap untuk perlindungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan perengkapan ini para jemaah haji ibaratkan mau berangkat ke medan perang.

Sekembalinya mereka dari ibadah haji, mereka disambut dengan upacara kebesaran bagaikan menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang. Dengan kemeriahan sambutan dengan tambur dan seruling, mereka dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka berawal dari situ, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.


Gelar Haji di Indonesia
Di zaman penjajahan belanda, pemerintahan kolonial sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama terlebih dahulu harus mendapat ijin dari pihak pemerintah belanda. Mereka sangat khawatir dapat menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, lalu menimbulkan pemberontakan.

Ilustrasi K.H. Hasyim Ashari


Masalahnya, banyak tokoh yang kembali ke tanah air sepulang naik Haji membawa perubahan. Contohnya adalah Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.

Hal-hal seperti inilah yang merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Pemerintahan kolonial pun mengkhususkan P. Onrust dan P. Khayangan di Kepulauan Seribu jadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.

Jadi demikianlah, gelar Haji pertama kali dibuat oleh pemerintahan kolonial dengan penambahan gelar  huruf  “H” yang berarti orang tersebut telah naik haji ke mekah. Seperti disinggung sebelumnya, banyak tokoh yang membawa perubahan sepulang berhaji, maka pemakaian gelar H akan memudahkan pemerintah kolonial untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.

Uniknya, pemakaian gelar tersebut sekarang malah jadi kebanggaan. Tak lengkap rasanya bila pulang berhaji tak dipanggil "Pak Haji" atau "Bu Hajjah". Ritual ibadah yang berubah makna menjadi prestise?  Ironis...











Sumber:
aliefqu.

Hikayat Peci di Indonesia

Peci, penutup kepala yang lazim dipakai saat sholat, silaturahmi lebaran, atau kegiatan keagamaan lainnya memiliki berbagai sisi cerita menarik. Walau mungkin susah ditelusuri data faktual sejarahnya - maklum, nenek moyang kita terbiasa dengan tradisi lisan - setidaknya ada gambaran sedikit yang membuat kita mengerti hal-ihwal peci di tanah air.

Bentuk peci yang khas sepintas mirip torbus (atau turban) dari Turki meyakinkan peneliti soal garis budaya dari negara-negara penyebar Islam dan termasuk India meluaskan pengaruh hingga ke Asia Tenggara. Kalau kita akrab dengan sebutan "peci" maka di  Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan selatan Thailand menyebutnya "songkok".
antarafoto.com
Menurut Rozan Yunos dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah” dalam The Brunei Times, 23 September 2007, songkok diperkenalkan para pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama, dikenal pula serban atau turban. Namun, serban dipakai oleh para cendekiawan Islam atau ulama, bukan orang biasa.

“Menurut para ahli, songkok menjadi pemandangan umum di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, saat Islam mulai mengakar,” tulis Rozan.

Lucunya, orang-orang arab yang dipandang sebagai penyebar peci atau songkok di tanah melayu malah meninggalkan tradisi itu. Sehingga pengamat sejarah berspekulasi soal keberadaan peci Indonesia.
 
fez atau fezzi dari Turki
Di beberapa negara Islam, sesuatu yang mirip songkok tetap populer. Di Turki, ada fez dan di Mesir disebut tarboosh. Fez berasal dari Yunani Kuno dan diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul sendiri, topi fez ini juga dikenal dengan nama fezzi.
Paling mendekati adalah fezzi, yang pelafalannya "pechi" mirip dengan peci di Indonesia
 
Di Asia Selatan (India, Pakistan, dan Bangladesh) fez dikenal sebagai Roman Cap (Topi Romawi) atau Rumi Cap (Topi Rumi). Ini menjadi simbol identitas Islam dan menunjukkan dukungan Muslim India atas kekhalifahan yang dipimpin Kekaisaran Ottoman.

Namun bentuk peci agak berbeda. Pada bagian atas peci memilik lipatan jahitan lebih kaku dibanding penutup kepala dari negara-negara arab. Karenanya, ada yang menyebut bahwa peci hasil modifikasi blangkon Jawa dengan surban Arab.




Sunan Kalijaga

Konon, peci merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga. Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit Brawijaya V.

Kuluk ini mirip kopiah, hanya ukurannya lebih besar. Hal itu agar sesuai ajaran Islam yang egaliter. Raja dan rakyat sama kedudukannya di hadapan Allah SWT. Hanya ketakwaan yang membedakan.
Sempilan:  Ada pula yang berpendapat Laksmana Ceng Ho yang membawa peci ke Indonesia. PECI berasal dari kata PE (artinya delapan) dan CHI (artinya energi), sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

Lalu SONGKOK yang berarti KOSONG DARI MANGKOK. Artinya, hidup ini seperti mangkok yang kosong. Harus diisi dengan ILMU dan BERKAH . Sementara kata KOPIAH berasal dari KOSONG KARENA DI PYAH.  Maknanya: kosong karena dibuang (di pyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan.


Keabsahan kisah di atas masih perlu dipertanyakan tentunya. Yang jelas, peci merupakan pemandangan umum di tanah melayu sejak abad 13. Saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, ia membawa oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman.

Jean Gelman Taylor, yang meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, menemukan bahwa sejak pertengahan abad ke-19, pengaruh itu tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian tertentu pakaian Barat. Pria-pria Jawa yang dekat dengan orang Belanda mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon atau peci tak pernah lepas dari kepala mereka.




Ikon Nasional


Peci memang khas umat Islam, tapi patut diingat peci juga ikon nasional. Siapa pun berhak memakai peci sebagai lambang identitas Indonesia. Inilah yang digagas oleh Soekarno, sang Founding Father negeri ini.

Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, sang penulis Cindy Adams menuturkan kisahnya begini...
Pemuda itu masih berusia 20 tahun. Dia tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat.

Dia harus menampakkan diri dalam rapat Jong Java itu, di Surabaya, Juni 1921. Tapi dia masih ragu. Dia berdebat dengan dirinya sendiri. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” “Aku seorang pemimpin.” “Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”

Setiap orang ternganga melihatnya tanpa bicara. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah.

Dia pun memecah kesunyian dengan berbicara: ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Itulah awal mula Sukarno mempopulerkan pemakaian peci.

Nah, sekarang jangan sungkan kenakan peci dan bangga menjadi orang Indonesia. Ups, tapi jangan kenakan peci hanya untuk arak-arakan di jalan dan menghancurkan usaha serta dagangan orang lain, ya...





























 

Tuesday, 9 July 2013

Belajar Makna Puasa dari Pohon Jati

Gerbang Ramadan sudah ada di depan mata, saatnya kembali menjalani ibadah puasa bagi umat Islam. Menahan nafsu sebulan penuh merupakan ujian yang harus dijalani. Agar tetap kuat selama Ramadan, mungkin kita bisa belajar dari pohon jati.

Alkisah, ketika kuda masih jadi satu-satunya alat transportasi dan banyak orang masih berpergian ke tempat yang jauh dengan berjalan kaki, demikian pula yang dilakukan dua pengelana ini. Yang satu janggutnya panjang memutih dan pria satunya masih muda berbadan tegap. Mereka adalah guru dan murid yang melintasi hutan-hutan di pulau Jawa.

Ilustrasi pohon jati / lensaindonesia.com

Berbulan-bulan mereka berjalan melewati hutan dan perkebunan. Sampai suatu saat kembali berada di sebuah hutan jati. Cuaca sangat panas, rasa haus dan lapar lebih cepat terasa.

Sang murid melihat pohon-pohon jati yang meranggas kering. Pohon-pohon jati itu melepaskan dedaunannya. Daun-daun kecoklatan terbang dan terhempas ringan di atas tanah. Lantai hutan jati terlihat penuh dengan daun lebar kering berwarna coklat muda yang berserakan. 

Penuh rasa penasaran, sang murid bertanya pada gurunya, ”Guru, dua bulan lalu, kita pernah melintasi hutan jati di tempat lain. Waktu itu kita merasakan kesejukan dibawah naungan pepohonan jati dengan daun hijaunya yang segar dan bunga-bunganya yang sedang mekar. Kali ini, hampir tak ada daun yang melekat di ranting pepohonan ini. Apa jati ini harus menggugurkan daunnya setiap tahun guru?”

”Kemarau dengan panas yang terik dan air dari langit yang tertahan, mengharuskan jati melewati hari harinya dengan melepas dedaunannya. Begitulah jati menempa dirinya muridku,” jawab sang guru singkat.

”Bagaimana caranya jati bisa tumbuh dan berkembang tanpa daun. Bukankah daun sangat penting untuk menyerap matahari dan menguapkan air bagi tumbuhan. Mereka bisa mati kalau begitu terus, Guru?” sang murid mendesak gurunya menjelaskan.

Sang guru kemudian menjawab rasa penasaran muridnya, ”Itulah hikmah yang Tuhan berikan melalui pohon jati. Meski tanpa daun, pohon jati justru sedang menempa dirinya menjadi salah satu pohon terbaik di bumi ini. Dia takkan mati. Ia bahkan sedang ”berpuasa” untuk tidak berkembang secara kasat mata. Ia sedang menempa dirinya untuk sanggup bertahan dengan ujian kekurangan air dan panasnya cuaca. Ia melewati ujian itu sambil mengugurkan masalah yang ada di daun dan memperbaiki kulitas kayu di batangnya.”

”Menggugurkan masalah? Artinya daun-daun itu kalau terus ada dan bekerja di musim kemarau bisa mengganggu pertumbuhan pohon karena boros air. Nantinya bagian pohon lain seperti batang dan akar bisa terganggu ya, Guru?”

”Benar sekali muridku. Sama halnya dengan tubuh kita. Pada saatnya kita harus mengistirahatkan anggota badan kita seperti perut untuk mengurangi kerjanya. Itu sangat diperlukan agar bagian lain dari diri kita berfungsi lebih optimal. Misalnya, saat perut beristirahat mengolah makanan, bagian tubuh lain khususnya pikiran dan jiwa kita bisa lebih optimal bekerja. Bukankah perut kita adalah salah satu sumber munculnya penyakit," papar sang guru menjelaskan kearifan alam yang diamatinya.

 

Sambil melewati daun-daun kering yang jatuh, suara dedaunan itu berderak memecah kesunyian saat terinjak kasut dua pengelana ini.

Sesaat, sang guru berhenti dan menepuk punggung muruidnya, "Daun-daun ini bisa kita andaikan sebagai dosa-dosa kita. Saat kita mau berkorban untuk menahan diri dan bertahan dari ujian, Tuhan akan memberi kita karunia-Nya berupa bergugurannya dosa-dosa kita. Pada saat dosa-dosa itu berlepasan dalam diri kita, maka hidup ini jadi lebih tenang dan bahagia. Bahagia itulah kualitas tertinggi yang diraih manusia dan sekaligus karunia dari-Nya. Kamu ingin hidup bahagia kan muridku?"

”Eh iya guru, pasti. Makanya kita harus segera sampai di kampung agar tenang, gak kepanasan begini Guru”

”Kamu masih puasa, kan? Jangan kalah sama pohon Jati yang puasanya lebih panjang dari kita,” canda Sang Guru

”Hahaha...” Guru dan murid tertawa. Mereka mendapatkan kearifan hidup dari gugurnya dedaunan pohon Jati.











 






Sunday, 7 July 2013

5 Perang Besar Umat Islam Sejak Zaman Rasulallah SAW

Perang Badar

Inilah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah perkembangan da’wah Islam. Meski dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding kekuatan musuh, dengan pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir.

Rasulullah SAW berngkat bersma tigaratusan orang sahabat dalam perang Badar. Ada yang mengatakan mereka berjumlah 313, 314, dan 31 7 orang. Mereka kira-kira terdiri dari 82 atau 86 Muhajirin serta 61 kabilah Aus dan 170 kabilah Khazraj. Kaum muslimin memang tidak berkumpul dalam jumlah besar dan tidak melakukan persiapan sempurna. mereka hanya memiliki dua ekor kuda, milik Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad al-Kindi. Di samping itu mereka hanya membawa tujuh puluh onta yang dikendarai secara bergantian, setiap onta untuk dua atau tiga orang. Rasulullah saw sendiri bergantian mengendarai onta dengan Ali dan Murtsid bin Abi Murtsid Al-Ghanawi.

Sementara jumlah pasukan kafir Quraisy sepuluh kali lipat. Tak kurang seribu tiga ratusan prajurit. Dengan seratus kuda dan enam ratus perisai, serta onta yang jumlahnya tak diketahui secara pasti, dan dipimpin langsung oleh Abu Jahal bin Hisyam. Sedangkan pendanaan perang ditanggung langsung oleh sembilan pemimpin Quraisy. Setiap hari, mereka menyembelih sekitar sembilan atau sepuluh ekor unta.

Perang Uhud

Kekalahan di Badar menanamkan dendam mendalam di hati kaum kafir Quraisy. Mereka pun keluar ke bukit Uhud hendak menyerbu kaum Muslimin. Pasukan Islam berangkat dengan kekuatan sekitar seribu orang prajurit, seratus diantaranya menggunakan baju besi, dan lima puluh lainnya menunggang kuda.

Di sebuah tempat bernama asy-Syauth, kaum muslimin melakukan shalat subuh. Tempat ini sangat dekat dengan musuh sehingga mereka bisa dengan mudah saling melihat. Ternyata pasukan musuh berjumlah sangat banyak. Mereka berkekuatan tiga ribu tentara, terdiri dari orang-orang Quraisy dan sekutunya. Mereka juga memiliki tiga ribu onta, dua ratus ekor kuda dan tujuh ratus buah baju besi.

Pada kondisi sulit itu, Abdullah bin Ubay, sang munafiq, berkhianat dengan membujuk kaum muslimin untuk kembali ke Madinah. Sepertiga pasukan, atau sekitar tiga ratus prajurit akhirnya mundur. Abdullah bin Ubay mengatakan, “Kami tidak tahu, mengapa kami membunuh diri kami sendiri?”

Setelah kemunduran tiga ratus prajurit tersebut, Rasulullah melakukan konsolidasi dengan sisa pasukan yang jumlahnya sekitar tujuh ratus prrajurit untuk melanjutkan perang. Allah memberi mereka kemenangan, meski awalnya sempat kocar-kacir.

Perang Mu’tah

Perang Mu’tah merupakan pendahuluan dan jalan pembuka untuk menaklukkan negeri-negeri Nasrani. Pemicu perang Mu’tah adalah pembunuhan utusan Rasulullah bernama al-Harits bin Umair yang diperintahkan menyampaikan surat kepada pemimpin Bashra. Al-Harits dicegat oleh Syurahbil bin Amr, seorang gubernur wilayah Balqa di Syam, ditangkap dan dipenggal lehemya. Untuk perang ini, Rasulullah mempersiapkan pasukan berkekuatan tiga ribu prajurit. Inilah pasukan Islam terbesar pada waktu itu.

Mereka bergerak ke arah utara dan beristirahat di Mu’an. Saat itulah mereka memperoleh informasi bahwa Heraklius telah berada di salah satu bagian wilayah Balqa dengan kekuatan sekitar seratus ribu prajurit Romawi. Mereka bahkan mendapat bantuan dari pasukan Lakhm, Judzam, Balqin dan Bahra kurang lebih seratus ribu prajurit. Jadi total kekuatan mereka adalah dua ratus ribu prajurit.

Perang Ahzab

Dua puluh pimpinan Yahudi bani Nadhir datang ke Makkah untuk melakukan provokasi agar kaum kafir mau bersatu untuk menumpas kaum muslimin. Pimpinan Yahudi bani Nadhir juga mendatangi Bani Ghathafan dan mengajak mereka untuk melakukan apa yang mereka serukan pada orang Quraisy. Selanjutnya mereka mendatangi kabilah-kabilah Arab di sekitar Makkah untuk melakukan hal yang sama. Semua kelompok itu akhirnya sepakat untuk bergabung dan menghabisi kaum muslimin di Madinah sampai ke akar-akarnya.

Jumlah keseluruhan pasukan Ahzab (sekutu) adalah sekitar sepuluh ribu prajurit. Jumlah itu disebutkan dalam kitab sirah adalah lebih banyak ketimbang jumlah orang-orang yang tinggal di Madinah secara keseluruhan, termasuk wanita, anak-anak, pemuda dan orang tua. Menghadapi kekuatan yang sangat besar ini, atas ide Salman al-Farisi, kaum muslimin menggunakan strategi penggalian parit untuk menghalangi sampainya pasukan musuh ke wilayah Madinah.

Perang Tabuk

Romawi memiliki kekuatan militer paling besar pada saat itu. Perang Tabuk merupakan kelanjutan dari perang Mu’tah. Kaum muslimin mendengar persiapan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Romawi dan raja Ghassan. Informasi tentang jumlah pasukan yang dihimpun adalah sekitar empat puluh ribu personil. Keadaan semakin kritis, karena suasana kemarau. Kaum muslimin tengah berada di tengah kesulitan dan kekurangan pangan.

Mendengar persiapan besar pasukan Romawi, kaum muslimin berlomba melakukan persiapan perang. Para tokoh sahabat memberi infaq fi sabilillah dalam suasana yang sangat mengagumkan. Utsman menyedekahkan dua ratus onta lengkap dengan pelana dan barang-barang yang diangkutnya. Kemudian ia menambahkan lagi sekitar seratus onta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya. Lalu ia datang lagi dengan membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah saw. Utsman terus bersedekah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus onta seratus kuda, dan uang dalam jumlah besar.

Abdurrahman bin Auf membawa dua ratus uqiyah perak. Abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya. Umar datang menyerahkan setengah hartanya. Abbas datang menyerahkan harta yang cukup banyak. Thalhah, Sa’d bin Ubadah, dan Muhammad bin Maslamah, semuanya datang memberikan sedekahnya. Ashim bin Adi datang dengan menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma dan diikuti oleh para sahabat yang lain.

Jumlah pasukan Islam yang terkumpul sebenarnya cukup besar, tiga puluh ribu personil. Tapi mereka minim perlengkapan perang. Bekal makanan dan kendaraan yang ada masih sangat sedikit dibanding dengan jumlah pasukan. Setiap delapan belas orang mendapat jatah satu onta yang mereka kendarai secara bergantian. Berulangkali mereka memakan dedaunan sehingga bibir mereka rusak. Mereka terpaksa menyembelih unta, meski jumlahnya sedikit, agar dapat meminum air yang terdapat dalam kantong air onta tersebut. Oleh karena itu, pasukan ini dinamakan jaisyul usrrah, atau pasukan yang berada dalam kesulitan.

Sumber: http://wonogiren.com

Monday, 24 June 2013

Kemegahan Masjid ini Ukurannya Lima Kali Lapangan Sepak Bola

Masjid Agung Sheikh Zayed adalah  masjid terbesar di Uni Emirat Arab dan masjid terbesar kedelapan di dunia. Ukurannya setara dengan ukuran lima sepakbola. Bisa dibayangkan, begitu besarnya sehingga setiap perayaan Idul Fitri dapat dikunjungi lebih dari 40.000 orang.

Masjid Agung Sheikh Zayed diprakarsai oleh almarhum Presiden dari Uni Emirat Arab (UEA), HH Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, yang ingin mendirikan sebuah struktur yang menyatukan keragaman budaya dunia Islam, nilai-nilai sejarah dan arsitektur modern dan seni.

Di masjid ini terdapat perpustakaan -  terletak di utara atau timur menara, melayani masyarakat dengan buku-buku klasik dan publikasi menangani berbagai mata pelajaran Islam: ilmu, peradaban, kaligrafi, seni, koin dan termasuk beberapa publikasi langka sejak lebih dari 200 tahun. Koleksi bukunya terdapat dalam berbagai bahasa seperti Arab, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Jerman dan Korea.


 
 







Sumber:
plasa.

Thursday, 13 June 2013

Keajaiban Nyamuk yang Mungkin Tidak Pernah Kita Sadari

Sebagaimana yang telah disebutkan, dalam banyak ayat Al Quran Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan alam dan melihat "tanda-tanda" di dalamnya. Semua makhluk hidup dan tak hidup di alam semesta diliputi oleh tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka semua "diciptakan", bahwa mereka menunjukkan kekuasaan, ilmu, dan seni dari "Pencipta" mereka. 


Manusia bertanggung jawab untuk mengenali tanda-tanda ini dengan menggunakan akal budinya, untuk memuliakan Allah. 

Walau semua makhluk hidup memiliki tanda-tanda ini, beberapa tanda dirujuk Allah secara khusus dalam Al Quran. Nyamuk adalah salah satunya. Di surat Al Baqarah ayat 26, nyamuk disebutkan: 

"Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik."(Al Bagarah, ayat 26)

Nyamuk sering dianggap sebagai makhluk hidup yang biasa dan tidak penting. Namun, ternyata nyamuk itu sangat berarti untuk diteliti dan dipikirkan, sebab di dalamnya terdapat tanda kebesaran Allah. Inilah sebabnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. 

Seekor nyamuk jantan yang telah cukup dewasa untuk kawin akan menggunakan antenanya-organ pendengar-untuk menemukan nyamuk betina. Fungsi antena nyamuk jantan berbeda dengan antena nyamuk betina. 


Bulu tipis di ujung antenanya sangat peka terhadap suara yang dipancarkan nyamuk betina. Tepat di sebelah organ seksual nyamuk jantan, terdapat anggota tubuh yang membantunya mencengkeram nyamuk betina ketika mereka melakukan perkawinan di udara. 

Nyamuk jantan terbang berkelompok, sehingga terlihat seperti awan. Ketika seekor betina memasuki kelompok tersebut, nyamuk jantan yang berhasil mencengkeram nyamuk betina akan melakukan perkawinan dengannya selama penerbangan. 

Perkawinan tidak berlangsung lama dan nyamuk jantan akan kembali ke kelompoknya setelah perkawinan. Sejak saat itu, nyamuk betina memerlukan darah untuk perkembangan telurnya. 


Perjalanan Luar Biasa Sang Nyamuk 

Pada umumnya, nyamuk dikenal sebagai pengisap dan pemakan darah. Hal ini ternyata tidak terlalu tepat, karena yang mengisap darah hanya nyamuk betina. Selain itu, nyamuk betina tidak membutuhkan darah untuk makan. Baik nyamuk jantan maupun betina hidup dari nektar bunga. 

Nyamuk betina mengisap darah hanya karena ia membutuhkan protein dalam darah untuk membantu telurnya berkembang. Dengan kata lain, nyamuk betina mengisap darah hanya untuk memelihara kelangsungan spesiesnya. 

Proses perkembangan nyamuk merupakan salah satu aspek yang paling mengesankan dan mengagumkan. Berikut ini adalah kisah singkat tentang transformasi makhluk hidup dari seekor larva renik melalui beberapa tahap menjadi seekor nyamuk: 

Telur nyamuk, yang berkembang dengan diberi makan darah, ditelurkan nyamuk betina di atas daun lembap atau kolam kering selama musim panas atau musim gugur. Sebelumnya, si induk memeriksa permukaan tanah secara menyeluruh dengan reseptor halus di bawah perutnya. Setelah menemukan tempat yang cocok, ia mulai bertelur. 


Telur-telur tersebut panjangnya kurang dari satu milimeter, tersusun dalam satu baris, secara berkelompok atau satu-satu. Beberapa spesies bertelur dalam bentuk tertentu, saling menempel sehingga menyerupai sampan. Sebagian kelompok telur ini bisa terdiri atas 300 telur. 

Telur-telur berwarna putih yang disusun rapi ini segera menjadi gelap warnanya, lalu menghitam dalam beberapa jam. Warna hitam ini memberikan perlindungan bagi larva, agar tak terlihat oleh burung atau serangga lain. Selain telur, warna kulit sebagian larva juga berubah sesuai dengan lingkungan, sehingga mereka lebih terlindungi. 


Larva berubah warna dengan memanfaatkan faktor-faktor tertentu melalui berbagai proses kimia rumit. Jelaslah, telur, larva, ataupun induk nyamuk tersebut tidak mengetahui proses-proses di balik perubahan warna dalam tahap perkembangan nyamuk.

Tidak mungkin ia bisa membuat sistem ini. dengan kemampuan sendiri. Tidak mungkin pula sistem ini terbentuk secara kebetulan. Nyamuk telah diciptakan dengan sistem ini sejak mereka pertama kali muncul. 


Menetasnya Telur 

Seusai masa inkubasi, larva-larva mulai keluar dari telur secara hampir bersamaan. Larva, yang terus-menerus makan, tumbuh dengan cepat. Kulit mereka segera menjadi sempit, sehingga mereka tidak bisa tumbuh lebih besar lagi. Ini berarti sudah tiba saatnya untuk pergantian kulit yang pertama. Pada tahap ini, kulit yang keras dan rapuh ini mudah pecah. Larva nyamuk berganti kulit dua kali lagi sampai selesai berkembang. 


Metode makan larva pun menakjubkan. Larva membuat pusaran kecil di dalam air, dengan menggunakan dua anggota badan yang berbulu dan mirip kipas angin. Pusaran ini membuat bakteri atau mikroorganisme lainnya mengalir ke mulutnya. 

Sambil bergantung terjungkir di dalam air, larva bernapas melalui pipa udara yang mirip "snorkel" yang digunakan para penyelam. Tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang mencegah masuknya air ke lubang yang digunakannya untuk bernapas. 


Singkatnya, makhluk hidup ini dapat bertahan hidup melalui banyak keseimbangan rumit yang berhubungan timbal-balik dan saling mempengaruhi. Jika tidak memiliki pipa udara, ia tidak akan mampu bertahan hidup. Jika tidak ada cairan kental, pipa pernapasannya akan dipenuhi air. 

Pembentukan dua sistem ini pada dua waktu yang berbeda akan menyebabkan kematian pada tahap ini. Ini menunjukkan bahwa keseluruhan sistem nyamuk tersebut itu utuh sejak awal. Dengan kata lain, ia telah diciptakan.

Larva berganti kulit sekali lagi. Pergantian yang terakhir ini agak berbeda dengan sebelumnya. Pada tahap ini, larva memasuki tahap pendewasaan terakhir, yaitu tahap kepompong. Kepompong yang mereka tempati menjadi sangat sempit. Ini berarti sudah tiba saatnya bagi larva untuk keluar dari kepompong. 


Makhluk yang keluar dari kepompong ini sedemikian berbeda, sehingga sulit dipercaya bahwa kedua wujud ini adalah dua fase perkembangan dari satu makhluk yang sama. Sebagaimana yang terlihat, proses perubahan ini terlalu rumit dan sulit untuk dirancang baik oleh larva ataupun nyamuk betina…. 

Selama tahap terakhir perkembangan ini, larva menghadapi bahaya terputusnya pernapasan, sebab lubang pernapasannya yang mencapai permukaan air melalui pipa udara akan tertutup. Sejak tahap ini, pernapasan nyamuk tidak lagi menggunakan lubang ini, tetapi melalui dua pipa yang baru saja muncul pada bagian depan tubuhnya. 

Oleh karena itulah, pipa-pipa ini tersembul di permukaan air sebelum pergantian kulit. Nyamuk dalam kepompong ini sekarang telah dewasa. Ia siap terbang, lengkap dengan semua organ dan organelnya, seperti antena, tubuh, kaki, dada, sayap, perut, dan matanya yang besar.


Kepompong tersebut tersobek di bagian atas. Bahaya terbesar pada tahap ini adalah bocornya air ke dalam kepompong. Akan tetapi, bagian atas kepompong yang tersobek ini ditutupi suatu cairan kental khusus, yang berfungsi melindungi kepala nyamuk dari sentuhan air. 

Ini saat yang sangat penting. Karena ia dapat jatuh ke air dan mati akibat tiupan angin, nyamuk harus memanjat ke atas air dan hanya kakinya yang boleh menyentuh permukaan air. Ia berhasil. 

Bagaimana nyamuk pertama kali mendapatkan "kemampuan" bertransformasi seperti ini? Mungkinkah sebuah larva "memutuskan" untuk berubah menjadi seekor nyamuk setelah berganti kulit tiga kali? Tentu tidak! Sangatlah jelas bahwa makhluk hidup mungil ini, yang dijadikan perumpamaan oleh Allah, telah diciptakan sedemikian secara khusus.


Bagaimana Nyamuk Mengindra Dunia Luar? 


Nyamuk dilengkapi dengan penerima panas yang sangat peka. Mereka mengindra segala sesuatu di sekitar mereka dalam berbagai warna menurut panasnya, sebagaimana terlihat pada gambar di diatas.

Karena pengindraannya tidak bergantung pada cahaya, nyamuk sangat mudah menentukan letak pembuluh darah dalam ruangan yang gelap sekalipun. Penerima panas pada nyamuk cukup peka untuk mendeteksi perbedaan suhu hingga sekecil 1/1000 C.


Teknik Mengisap Darah Yang Menakjubkan 

Teknik nyamuk untuk mengisap darah ini bergantung pada sistem kompleks yang mengatur kerja sama antara berbagai struktur yang sangat terperinci. 

Setelah mendarat pada sasaran, mula-mula nyamuk mendeteksi sebuah titik dengan bibir pada belalainya. Sengat nyamuk yang mirip alat suntik ini dilindungi bungkus khusus yang membuka selama proses pengisapan darah. 


Tidak seperti anggapan orang, nyamuk tidak menusuk kulit dengan cara menghunjamkan belalainya dengan tekanan. Di sini, tugas utama dilakukan oleh rahang atas yang setajam pisau dan rahang bawah yang memiliki gigi yang membengkok ke belakang. 

Nyamuk menggerakkan rahang bawah maju-mundur seperti gergaji dan mengiris kulit dengan bantuan rahang atas. Ketika sengat diselipkan melalui irisan pada kulit ini dan mencapai pembuluh darah, proses pengeboran berakhir. Sekarang waktunya nyamuk mengisap darah. 


Namun, sebagaimana kita ketahui, luka seringan apa pun pada pembuluh darah akan menyebabkan tubuh manusia mengeluarkan enzim yang membekukan darah dan menghentikan kebocoran. 

Enzim ini tentunya menjadi masalah bagi nyamuk, sebab tubuh manusia juga akan segera bereaksi membekukan darah pada lubang yang dibuat nyamuk dan menutup luka tersebut. Artinya, nyamuk tidak akan bisa mengisap darah lagi.

Akan tetapi, masalah ini dapat diatasi. Sebelum mulai mengisap darah, ia menyuntikkan cairan khusus dari tubuhnya ke dalam irisan yang telah terbuka. Cairan ini menetralkan enzim pembeku darah. Maka, nyamuk dapat mengisap darah yang ia butuhkan tanpa terjadi pembekuan darah. Rasa gatal dan bengkak pada titik yang digigit nyamuk diakibatkan oleh cairan pencegah pembekuan darah ini. 


Ini tentulah sebuah proses yang luar biasa dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan berikut: 

1. Bagaimana nyamuk tahu dalam tubuh manusia ada enzim pembeku? 

2. Untuk memproduksi cairan penetral enzim tersebut, nyamuk perlu mengetahui struktur kimianya. Bagaimana ini bisa terjadi? 

3. Andaipun entah bagaimana nyamuk mendapatkan pengetahuan itu, bagaimana ia memproduksi cairan tersebut dalam tubuhnya sendiri dan membuat "rantai teknis" yang dibutuhkan untuk mentransfer cairan tersebut ke belalainya?

Jawaban semua pertanyaan diatas telah jelas, tidak mungkin nyamuk bisa melakukan semua hal diatas. Ia tidak pula memiliki akal, ilmu kimia, ataupun lingkungan "laboratorium" yang diperlukan untuk memproduksi cairan tersebut. Yang kita bicarakan adalah seekor nyamuk yang hanya beberapa milimeter panjangnya, tanpa akal ataupun kecerdasan, itu saja! 

Jelaslah bahwa Allah, Tuhan dari langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, telah menciptakan nyamuk dan manusia, dan memberikan kemampuan-kemampuan luar biasa dan menakjubkan tersebut kepada nyamuk. 

"Segala sesuatu yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahabesar, Maha Bijaksana. Kekuasaan dari langit dan bumi adalah miliknya. Ia memberikan hidup dan menjadikan mati. Ia memiliki kekuasaan atas segala sesuatu." (QS. Al Hadid: 1-2)


Sumber :
harunyahya.com